• Jl. Belitung No. 8, Kota Bandung
  • admin@ks-sman5bdg.web.id
  • BSI Rek. 9010555555 & Bank Mega Rek. 010730016555555

Sekolah MAUNG, Nilai yang Berubah, dan Hak Orang Tua untuk Mendapat Penjelasan

Oleh: Irfan Dis­nizar
Opi­ni Prib­a­di seba­gai Pemer­hati Hukum dan Kebi­jakan Pen­didikan

Beber­a­pa hari ter­akhir, pub­lik ramai mem­bicarakan Seko­lah MAUNG di Jawa Barat. Isun­ya bukan hanya soal pro­gram baru. Bukan juga hanya soal seko­lah mana yang ditun­juk men­ja­di pelak­sana. Yang pal­ing sen­si­tif jus­tru soal nilai anak yang berubah di sis­tem selek­si.

Bagi pemer­in­tah, pen­je­lasan­nya mungkin terasa cukup jelas. Nilai dipros­es oleh sis­tem. Ada sinkro­nisasi data. Ada pemu­takhi­ran. Ada penye­sua­ian skor agar sesuai den­gan keten­tu­an. Dinas Pen­didikan Jawa Barat juga telah men­je­laskan bah­wa peruba­han skor pada jalur prestasi non-akademik bukan pemo­ton­gan sepi­hak, melainkan penye­sua­ian data riil agar peni­la­ian sesuai atu­ran yang berlaku. Beber­a­pa con­toh yang dise­but antara lain terkait kat­e­gori Taek­won­do, Ket­ua OSIS, dan Pra­mu­ka Garu­da.

Tetapi bagi orang tua, per­soalan­nya tidak seseder­hana itu.

Orang tua meli­hat layar. Kemarin nilai anaknya sekian. Hari ini berubah. Kemarin posisinya masih terasa aman. Hari ini tiba-tiba tergeser. Bagi sis­tem, itu mungkin hanya angka yang diper­barui. Bagi orang tua, itu seper­ti kur­si yang tiba-tiba ditarik.

Di sini­lah letak per­soalan besarnya.

Kali­mat “itu digen­er­ate oleh sis­tem” bisa saja benar. Tetapi kali­mat itu belum ten­tu cukup untuk mene­nangkan pub­lik. Sebab sis­tem, dalam layanan pub­lik, tidak boleh men­ja­di kotak hitam. Sis­tem dibu­at manu­sia. Rumus­nya dima­sukkan manu­sia. Datanya diin­put manu­sia. Kat­e­gorinya diten­tukan manu­sia. Maka keti­ka hasil sis­tem berdampak pada masa depan anak, sis­tem itu juga harus bisa dije­laskan oleh manu­sia.

Yang dibu­tuhkan orang tua bukan pen­je­lasan tek­nis yang rumit. Bukan bahasa aplikasi. Bukan isti­lah birokrasi yang sulit diba­ca. Yang dibu­tuhkan adalah jejak peruba­han yang seder­hana, terang, dan dap­at dipa­ha­mi.

Mis­al­nya, untuk seti­ap anak yang nilainya berubah, sis­tem seharus­nya dap­at menampilkan pen­je­lasan seper­ti ini:

Skor awal: 370,40
Skor akhir: 319,40
Alasan peruba­han: kat­e­gori prestasi awal ter­ba­ca seba­gai X, sete­lah ver­i­fikasi diko­rek­si men­ja­di Y
Dasar atu­ran: Kepgub atau juk­nis, pasal atau lam­pi­ran ter­ten­tu
Ver­i­fika­tor: seko­lah, Dis­dik, atau sis­tem
Tang­gal peruba­han: tang­gal dan jam peruba­han
Sta­tus: semen­tara atau final
Hak orang tua: dap­at men­ga­jukan sang­ga­han dalam jang­ka wak­tu ter­ten­tu

Seder­hana, tetapi pent­ing.

Den­gan for­mat seper­ti itu, orang tua mungkin tetap kece­wa. Tetapi seti­daknya mere­ka tahu apa yang berubah, men­ga­pa berubah, sia­pa yang memver­i­fikasi, kapan berubah, dan apakah masih ada ruang untuk bertanya atau menyang­gah.

Berbe­da sekali kalau pen­je­lasan­nya hanya: “sudah sesuai sis­tem.”

Kali­mat itu bisa mem­bu­at orang tua merasa sedang berhada­pan den­gan tem­bok. Mere­ka tidak meli­hat rumus­nya. Tidak meli­hat jejak koreksinya. Tidak meli­hat dasar atu­ran­nya. Tidak tahu apakah peruba­han itu masih bisa diper­soalkan atau sudah final.

Pada­hal dalam selek­si seko­lah negeri, angka bukan sekadar angka. Angka adalah hara­pan. Angka adalah hasil ker­ja anak sela­ma bertahun-tahun. Angka adalah rapor, lom­ba, lati­han, organ­isasi, ser­ti­fikat, dan doa orang tua. Maka keti­ka angka itu berubah, orang tua tidak sedang mem­perde­batkan tabel. Mere­ka sedang mem­per­tanyakan nasib anaknya.

Ten­tu saja, pemer­in­tah berhak mem­per­bai­ki data kalau data awal memang belum tepat. Kalau prestasi yang sem­u­la ter­ba­ca seba­gai kat­e­gori ter­ten­tu terny­a­ta sete­lah dicek masuk kat­e­gori lain, skor boleh diko­rek­si. Kalau doku­men awal belum sesuai, val­i­dasi boleh dilakukan. Bahkan, mem­biarkan skor yang keliru tetap dipakai jus­tru bisa merugikan peser­ta lain.

Jadi, masalah­nya bukan apakah korek­si boleh dilakukan atau tidak.

Korek­si boleh.
Tetapi korek­si harus terang.
Sis­tem boleh bek­er­ja otoma­tis.
Tetapi hasil­nya harus dap­at dije­laskan.
Skor boleh berubah.
Tetapi peruba­han itu tidak boleh terasa seper­ti menghi­lang di balik mesin.

Ini­lah insight yang menu­rut saya ser­ing luput. Dalam kebi­jakan pub­lik, masalah terbe­sar kadang bukan pada hasil akhirnya. Masalah terbe­sar muncul keti­ka war­ga merasa kehi­lan­gan kendali atas pros­es yang menen­tukan nasib­nya.

Orang tua bisa mener­i­ma anaknya tidak lolos. Itu pahit, tetapi mungkin bisa diter­i­ma. Yang sulit diter­i­ma adalah keti­ka anak tidak lolos kare­na angka berubah tan­pa pen­je­lasan yang terasa cukup.

Apala­gi ini menyangkut seko­lah negeri. Seko­lah negeri bukan milik peja­bat. Bukan milik aplikasi. Bukan milik sis­tem. Seko­lah negeri adalah layanan pub­lik. Kare­na itu, uku­ran­nya bukan hanya cepat dan efisien, tetapi juga adil, ter­bu­ka, dan dap­at diper­tang­gung­jawabkan.

Untuk seko­lah-seko­lah yang memi­li­ki rep­utasi pan­jang seper­ti SMAN 3 Ban­dung dan SMAN 5 Ban­dung, sen­si­tiv­i­tas­nya ten­tu lebih ting­gi. Banyak orang tua meman­dang seko­lah terse­but bukan sekadar tem­pat bela­jar, tetapi sim­bol hara­pan, sejarah, dan kesem­patan. Maka peruba­han kebi­jakan apa pun yang menyen­tuh seko­lah seper­ti ini pasti per­lu komu­nikasi yang lebih hati-hati.

Di titik ini, kita per­lu men­ja­ga kese­im­ban­gan.

Tidak adil kalau semua per­soalan lang­sung dituduh seba­gai kecu­ran­gan. Tuduhan harus pun­ya dasar. Kalau memang peruba­han nilai ter­ja­di kare­na korek­si data dan penye­sua­ian kat­e­gori prestasi, hal itu per­lu diba­ca secara objek­tif.

Tetapi juga tidak bijak kalau kere­sa­han orang tua diang­gap sekadar ribut-ribut. Dalam kebi­jakan pub­lik, kemara­han war­ga ser­ing kali bukan tan­da mere­ka tidak paham. Bisa jadi jus­tru tan­da bah­wa pen­je­lasan pemer­in­tah belum sam­pai den­gan baik.

Maka jalan ter­baik bukan sal­ing meny­erang.

Jalan ter­baik adalah mem­bu­ka pen­je­lasan.

Seti­ap peser­ta yang nilainya berubah sebaiknya mem­per­oleh pen­je­lasan indi­vid­ual yang mudah diba­ca. Bukan hanya pengu­mu­man umum. Bukan hanya kali­mat “sesuai sis­tem”. Tetapi pen­je­lasan yang menun­jukkan hubun­gan antara data anak, kat­e­gori prestasi, rumus peni­la­ian, dasar atu­ran, pros­es ver­i­fikasi, dan hasil akhir.

Kalau ini dilakukan, orang tua mungkin tetap tidak puas. Tetapi keti­dakpuasan yang dijawab den­gan data akan jauh lebih sehat dari­pa­da keti­dakpuasan yang dib­iarkan berubah men­ja­di kecuri­gaan.

Seko­lah dan Komite juga per­lu mengam­bil posisi yang hati-hati. Jan­gan ter­bu­ru-buru men­ja­di pem­bela sis­tem. Tetapi juga jan­gan ikut mem­perkeruh keadaan. Posisi yang sehat adalah men­ja­ga jem­bat­an: meng­hor­mati kebi­jakan pemer­in­tah, mema­ha­mi kere­sa­han orang tua, dan men­dorong transparan­si yang lebih baik.

Kare­na pada akhirnya, Seko­lah MAUNG bukan hanya sedang diu­ji seba­gai pro­gram pen­didikan. Ia juga sedang diu­ji seba­gai pro­gram pub­lik.

Pro­gram pub­lik yang baik tidak cukup hanya benar menu­rut mesin. Ia harus dap­at diter­i­ma akal sehat masyarakat.

Kali­mat “tidak ada kecu­ran­gan” memang pent­ing. Tetapi belum cukup. Pub­lik juga per­lu diyakinkan bah­wa tidak ada kesala­han yang dib­iarkan, tidak ada peruba­han yang dis­em­bun­yikan, dan tidak ada anak yang dirugikan tan­pa hak untuk men­da­p­at pen­je­lasan.

Dalam pen­didikan, kead­i­lan bukan hanya harus ada.

Kead­i­lan juga harus keli­hatan. (ID)