• Jl. Belitung No. 8, Kota Bandung
  • admin@ks-sman5bdg.web.id
  • BSI Rek. 9010555555 & Bank Mega Rek. 010730016555555

Ketika Remaja Kehilangan Kendali Emosi

Mengapa Sekolah Perlu Sistem Pendampingan Mental yang Lebih Kuat

Ada masa dalam kehidu­pan rema­ja keti­ka emosi terasa begi­tu besar, semen­tara kemam­puan untuk men­gelolanya belum sepenuh­nya ter­ben­tuk.

Pada usia SMA, seo­rang anak sedang bera­da pada fase pent­ing dalam per­tum­buhan hidup­nya. Mere­ka sedang bela­jar men­ge­nali diri, mem­ban­gun iden­ti­tas, men­cari tem­pat di lingkun­gan perte­m­anan, sekali­gus meng­hadapi berba­gai tekanan—baik akademik, sosial, maupun prib­a­di.

Dalam fase seper­ti ini, kon­flik kecil bisa terasa besar.
Keke­ce­waan bisa berubah men­ja­di kemara­han.
Tekanan yang tidak teru­cap­kan bisa berubah men­ja­di ledakan emosi.

Itu­lah sebab­nya berba­gai peri­s­ti­wa yang meli­batkan remaja—seperti perke­lahi­an, tawu­ran, hing­ga tin­dakan agre­sif yang ter­ja­di secara spontan—sering kali beraw­al dari emosi yang tidak sem­pat dikelo­la den­gan baik.

Peri­s­ti­wa-peri­s­ti­wa terse­but ser­ing mening­galkan rasa duka yang dalam bagi banyak pihak.

Kare­na pada akhirnya, yang ter­li­bat di dalam­nya adalah anak-anak yang sedang bertum­buh.

Realitas yang Perlu Kita Hadapi Bersama

Berba­gai penelit­ian menun­jukkan bah­wa kese­hatan men­tal rema­ja men­ja­di isu yang semakin pent­ing di berba­gai kota besar.

Data skrin­ing kese­hatan men­tal ter­hadap 148.239 siswa di Kota Ban­dung menun­jukkan adanya seba­gian siswa yang memi­li­ki indikasi tekanan psikol­o­gis yang memer­lukan per­ha­t­ian lebih.

Penelit­ian lain ter­hadap ribuan siswa SMA di beber­a­pa provin­si di Jawa bahkan menun­jukkan bah­wa lebih dari seperem­pat respon­den per­nah men­gala­mi piki­ran bunuh diri dalam hidup­nya.

Angka-angka ini bukan untuk menakutkan, tetapi untuk mengin­gatkan kita bah­wa rema­ja hidup dalam dunia yang semakin kom­pleks secara emo­sion­al.

Tekanan akademik, ekspek­tasi masa depan, dinami­ka perte­m­anan, hing­ga pen­garuh media sosial semuanya hadir bersamaan dalam kehidu­pan mere­ka.

Ketika Emosi Belum Selesai Dipahami

Dalam per­spek­tif psikolo­gi perkem­ban­gan, otak rema­ja masih bera­da dalam tahap pem­ben­tukan, teruta­ma pada bagian yang men­gatur pen­gen­dalian emosi dan pengam­bi­lan kepu­tu­san.

Kare­na itu, rema­ja cen­derung:

  • lebih sen­si­tif ter­hadap lingkun­gan sosial
  • lebih mudah ter­pen­garuh tekanan kelom­pok
  • lebih impul­sif dalam mengam­bil kepu­tu­san
  • dan ser­ing bereak­si lebih cepat dari­pa­da berpikir pan­jang.

Jika tidak ada ruang untuk berbicara, tidak ada tem­pat untuk diden­gar, dan tidak ada orang dewasa yang hadir seba­gai penun­tun, emosi yang tidak ter­salurkan bisa berubah men­ja­di tin­dakan yang dis­esali.

Sekolah Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Juga Mendampingi

Dalam meng­hadapi real­i­tas ini, per­an seko­lah tidak lagi cukup hanya seba­gai tem­pat pem­be­la­jaran akademik.

Seko­lah juga per­lu men­ja­di ruang aman bagi per­tum­buhan emo­sion­al siswa.

Kare­na itu, berba­gai seko­lah mulai mengem­bangkan pen­dekatan pen­dampin­gan kese­hatan men­tal bagi siswa.

Di SMAN 5 Ban­dung, mis­al­nya, telah dilakukan pem­bekalan bagi para guru men­ge­nai per­an guru seba­gai pen­damp­ing kese­hatan men­tal siswa, yang meng­hadirkan tim psikolo­gi untuk berba­gi pema­haman dan prak­tik dasar dalam men­dampin­gi siswa secara empatik.

Pen­dekatan ini dike­nal seba­gai Psy­cho­log­i­cal First Aid (PFA) atau per­to­lon­gan psikol­o­gis awal.

Prin­sip­nya seder­hana, namun san­gat pent­ing:

Look – Lis­ten – Link

  • meli­hat tan­da-tan­da tekanan emo­sion­al
  • menden­garkan den­gan empati tan­pa meng­haki­mi
  • ser­ta menghubungkan siswa den­gan dukun­gan yang tepat.

Pen­dekatan ini mengin­gatkan kita bah­wa ser­ing kali, yang pal­ing dibu­tuhkan seo­rang rema­ja bukan­lah nasi­hat pan­jang, tetapi sese­o­rang yang mau benar-benar menden­garkan.

Shar­ing Ses­sion “Per­an Guru Seba­gai Pen­damp­ing Kese­hatan Men­tal Siswa Di Lingkun­gan SMA Negeri 5 Ban­dung” — Bersama Komite Seko­lah, Pada Jum’at, 13 Maret 2026

Teman Sebaya: Kekuatan yang Sering Terlupakan

Dalam kehidu­pan rema­ja, teman sebaya memi­li­ki pen­garuh yang san­gat besar.

Rema­ja ser­ing kali lebih mudah mem­bu­ka diri kepa­da saha­bat­nya diband­ingkan kepa­da orang dewasa.

Kare­na itu, banyak pen­dekatan pen­didikan mod­ern mulai mengem­bangkan kon­sep peer sup­port—di mana siswa juga dibekali kemam­puan untuk men­ja­di teman yang peka ter­hadap kon­disi saha­bat­nya.

Keti­ka budaya sal­ing peduli tum­buh di antara siswa, seko­lah tidak hanya men­ja­di tem­pat bela­jar, tetapi juga men­ja­di komu­ni­tas yang sal­ing men­ja­ga.

Sebuah Refleksi untuk Kita Semua

Seti­ap peri­s­ti­wa yang meli­batkan rema­ja selalu mening­galkan pela­jaran yang dalam.

Bukan hanya bagi seko­lah, tetapi juga bagi kita semua—orang tua, guru, alum­ni, dan masyarakat.

Rema­ja kita sedang tum­buh di dunia yang jauh lebih kom­pleks diband­ingkan gen­erasi sebelum­nya.

Mere­ka mem­bu­tuhkan lebih dari sekadar prestasi akademik.
Mere­ka mem­bu­tuhkan ruang untuk diden­gar, dipa­ha­mi, dan dibimb­ing.

Kare­na pada akhirnya, pen­didikan bukan hanya ten­tang nilai rapor.

Pen­didikan adalah ten­tang mem­ban­tu seo­rang anak tum­buh men­ja­di manu­sia yang mam­pu mema­ha­mi dirinya, men­gelo­la emosinya, dan meng­har­gai kehidu­pan.

Dan dalam per­jalanan itu, tidak ada anak yang seharus­nya ber­jalan sendiri­an. (id)

Komite Seko­lah SMAN 5 Ban­dung

Doa dan Empati untuk Salah Satu Siswa Kami

Dalam suasana reflek­si ini, kelu­ar­ga besar SMAN 5 Ban­dung juga menyam­paikan doa dan empati atas berpu­langnya salah satu siswa kami:

.

Muham­mad Fahd­ly Arja­sub­ra­ta
Siswa Kelas XI‑B
SMAN 5 Ban­dung

.

Kami mema­ha­mi bah­wa peri­s­ti­wa yang melatar­be­lakan­gi keper­gian almarhum meru­pakan peri­s­ti­wa kek­erasan yang saat ini sedang dalam penan­ganan pihak kepolisian. Oleh kare­na itu, kami meng­hor­mati sepenuh­nya pros­es hukum yang sedang ber­jalan.

.

Kelu­ar­ga besar SMAN 5 Ban­dung meman­jatkan doa agar almarhum men­da­p­atkan tem­pat ter­baik di sisi Allah SWT, ser­ta kelu­ar­ga yang dit­ing­galkan diberikan keku­atan dan ketaba­han.

.

Semoga peri­s­ti­wa ini juga men­ja­di pengin­gat bagi kita semua ten­tang pent­ingnya men­gelo­la emosi, men­ja­ga per­gaulan, ser­ta mem­ban­gun lingkun­gan rema­ja yang sal­ing melin­dun­gi.

.

Inna lil­lahi wa inna ilai­hi raji’un.