• 022 4206921
  • admin@ks-sman5bdg.web.id
  • Jl. Belitung No.8, Bandung
Edukasi Komite Sekolah
Kajian Tentang Komite Sekolah

Kajian Tentang Komite Sekolah

Kajian atas : Permendikbud 75/2016, Pergub Jabar 44/2022, dan Pergub Jabar  97/2022

Oleh : Ir. Irfan Dis­nizar, S.H.

LATAR BELAKANG MASALAH

Sela­ma bertahun-tahun, muncul kesalah­pa­haman besar di masyarakat bah­wa seko­lah negeri tidak boleh mener­i­ma sum­ban­gan apa pun kare­na sudah ada dana BOS.

Perny­ataan terse­but ter­den­gar logis, namun secara hukum, sosi­ol­o­gis, dan filosofis ‑pan­dan­gan itu tidak tepat.

Per­me­ndik­bud 75/2016, Per­gub Jabar 44/2022, dan Per­gub Jabar 97/2022 jus­tru secara eksplisit men­gatur legal­i­tas peng­galan­gan dana melalui Komite Seko­lah, den­gan prin­sip:

  • gotong roy­ong,
  • sukarela,
  • transparan,
  • tidak mengikat,
  • tidak memak­sa.

Kesalah­pa­haman ini menim­bulkan dampak negatif:

  • seko­lah takut mengem­bangkan mutu kare­na takut dituduh pungli,
  • komite seko­lah bin­gung men­jalankan tugas­nya,
  • masyarakat curi­ga seti­ap kali ada pem­bicaraan dana,
  • peja­bat pub­lik ser­ing men­gelu­arkan perny­ataan yang tidak sinkron den­gan reg­u­lasi.

Naskah akademik ini mem­berikan pen­je­lasan ilmi­ah pop­uler (ringan) agar masyarakat mema­ha­mi mak­sud sebe­narnya dari reg­u­lasi terkait peng­galan­gan dana pen­didikan.

PERMASALAHAN YANG INGIN DIKAJI

  1. Apakah seko­lah negeri boleh mener­i­ma sum­ban­gan?
  2. Men­ga­pa dana BOS tidak cukup mem­bi­ayai kebu­tuhan seko­lah negeri?
  3. Apa perbe­daan “sum­ban­gan” dan “pung­utan” menu­rut hukum?
  4. Men­ga­pa Komite Seko­lah jus­tru diberi tugas meng­galang dana?
  5. Bagaimana mekanisme peng­galan­gan dana yang sah, etis, dan sesuai reg­u­lasi?

LANDASAN FILOSOFIS

Per­me­ndik­bud 75/2016 bagian “Menim­bang” meny­atakan bah­wa pen­ingkatan mutu pen­didikan memer­lukan revi­tal­isasi per­an Komite Seko­lah “berdasarkan prin­sip gotong roy­ong”.

Mak­na filosofis ini menun­jukkan:

  1. Negara tidak mengk­laim mam­pu mem­bi­ayai selu­ruh kebu­tuhan pen­ingkatan mutu layanan pen­didikan di seko­lah.
  2. Pen­didikan berkual­i­tas adalah hasil ker­ja bersama antara negara, seko­lah, dan masyarakat.
  3. Sum­ban­gan sukarela meru­pakan ben­tuk par­tisi­pasi komu­ni­tas, bukan beban wajib.

Artinya, reg­u­lasi tidak bermak­sud meng­ha­pus kon­tribusi masyarakat, tetapi men­gaturnya agar tidak berubah men­ja­di pung­utan liar.

LANDASAN SOSIOLOGIS

  • Ekspek­tasi mutu seko­lah negeri rujukan masyarakat

Seko­lah seper­ti SMAN 5 Ban­dung memi­li­ki rep­utasi akademik ting­gi. Masyarakat berharap seko­lah mam­pu menye­di­akan:

  1. fasil­i­tas mod­ern,
  2. pro­gram kom­petisi nasional/internasional,
  3. lab­o­ra­to­ri­um mutakhir,
  4. kegiatan pem­bi­naan karak­ter,
  5. lingkun­gan bela­jar yang aman dan inspi­ratif.

Namun ekspek­tasi terse­but tidak ter­cer­min dalam alokasi BOS yang bersi­fat stan­dar min­i­mal.

  • Fund­ing Gap (Jurang Pem­bi­ayaan)

Con­toh seder­hana:

  1. Dana BOS       : Rp 1,5 mil­iar
  2. Kebu­tuhan mutu ung­gu­lan (dalam RKAS): Rp 2,3 mil­iar
  3. Keku­ran­gan     : Rp 800 juta

Keku­ran­gan ini tidak dap­at ditut­up den­gan BOS, dan pem­ben­tuk kebi­jakan menyadarinya. Kare­na itu, reg­u­lasi mem­berikan dasar hukum bagi Komite Seko­lah untuk meng­galang dana.

  • Masyarakat Kelas Menen­gah dan Reali­ta Sosial

Di seko­lah negeri yang men­ja­di rujukan masyarakat den­gan tra­disi prestasi seper­ti SMAN 5 Ban­dung, may­ori­tas siswa berasal dari kelu­ar­ga yang relatif mam­pu berkon­tribusi secara sukarela. Namun tetap ada siswa yang tidak mam­pu, sehing­ga reg­u­lasi men­gatur agar mere­ka dibebaskan dari kewa­jiban meng­hadiri musyawarah dan tidak dibebankan sum­ban­gan apa pun.

LANDASAN YURIDIS

  • Peng­galan­gan Dana adalah TUGAS Res­mi Komite

Per­me­ndik­bud 75/2016 Pasal 3 dan Per­gub Jabar 44/2022/97/2022 secara tegas menye­but bah­wa Komite Seko­lah bertu­gas:

“meng­galang dana dan sum­ber daya pen­didikan lain­nya melalui upaya kre­atif dan ino­vatif.

Ini bukan sekadar izin — tetapi man­dat.

  • Perbe­daan Sum­ban­gan vs Pung­utan

Per­me­ndik­bud 75/2016 Pasal 1:

  1. Sum­ban­gan: sukarela, tidak mengikat, tidak wajib.
  2. Pung­utan: wajib, mengikat, nom­i­nal diten­tukan — dan dila­rang dilakukan oleh seko­lah maupun komite.

  • Pen­gat­u­ran Mekanisme

Per­gub Jabar 44/2022 dan 97/2022 men­gatur:

  1. wajib ada musyawarah antara komite dan orang tua,
  2. wajib ada kat­e­gori kon­tribusi (bukan nom­i­nal tung­gal),
  3. orang tua tidak mam­pu harus dibebaskan,
  4. pro­pos­al wajib dike­tahui kepala seko­lah,
  5. hasil peng­galan­gan dana harus dila­porkan secara transparan.

Secara hukum, reg­u­lasi tidak melarang sum­ban­gan — jus­tru men­gatur agar sum­ban­gan dilakukan secara etis dan aman.

CONTOH KASUS

Con­toh 1: Per­baikan Lab­o­ra­to­ri­um

BOS hanya dap­at mem­bi­ayai alat tulis dan kebu­tuhan dasar, tetapi tidak untuk pem­ban­gu­nan meja anti­asam, per­baikan insta­lasi listrik, atau ren­o­vasi ruang lab.

Solusinya:

  • komite menyusun pro­pos­al,
  • musyawarah orang tua dilakukan,
  • kon­tribusi bersi­fat sukarela,
  • orang tua tidak mam­pu dibebaskan.

Con­toh 2: Pem­bi­naan OSN

Biaya pem­bi­naan OSN meliputi:

  • pelatih ekster­nal,
  • trans­portasi,
  • ako­modasi.

Dana BOS tidak cukup menut­up semua pos ini, sehing­ga sum­ban­gan sukarela men­ja­di sum­ber legal sesuai reg­u­lasi.

Con­toh 3: Kegiatan Karak­ter Seko­lah

Kegiatan seper­ti lead­er­ship camp, pem­bi­naan seni, budaya, dan pro­gram sosial ser­ing tidak ter­can­tum dalam BOS, sehing­ga memer­lukan gotong roy­ong.

INTENT PEMBENTUK REGULASI

Dari mem­ba­ca struk­tur, frasa kun­ci, ser­ta tujuan reg­u­lasi:

  1. Negara ingin seko­lah negeri den­gan tra­disi prestasi tetap berkem­bang den­gan dukun­gan masyarakat.
  2. Sum­ban­gan meru­pakan ben­tuk par­tisi­pasi sosial, bukan pung­utan wajib.
  3. Komite men­ja­di pen­ja­ga eti­ka dan transparan­si, bukan pemu­ngut dana pak­sa.
  4. Reg­u­lasi dibu­at untuk mem­bat­asi peny­im­pan­gan, bukan meng­ha­pus ruang sum­ban­gan.
  5. Sum­ber dana pen­didikan berasal dari APBN, APBD, dan per­an ser­ta masyarakat — keti­ganya sah secara hukum.

Den­gan kata lain:

“BOS menut­up biaya dasar, gotong roy­ong menut­up kebu­tuhan pen­ingkatan mutu layanan pen­didikan (mis­al: seko­lah den­gan tra­disi prestasi).”

PENUTUP

Den­gan mema­ha­mi kerang­ka filosofis, sosi­ol­o­gis, dan yuridis di atas, pub­lik dap­at mem­be­dakan antara:

  • sum­ban­gan yang legal dan sukarela,
  • pung­utan yang dila­rang,
  • ser­ta hak dan kewa­jiban komite seko­lah.

Peng­galan­gan dana bukan­lah pelang­garan sela­ma dilakukan sesuai prose­dur, tidak memak­sa, dan mengede­pankan transparan­si.

Pen­dekatan gotong roy­ong adalah fon­dasi pen­didikan ung­gu­lan yang adil dan bereti­ka, sejalan den­gan reg­u­lasi yang berlaku.

DISCLAIMER

Naskah Akademik ini dis­usun seba­gai kajian ilmi­ah pop­uler untuk meningkatkan pema­haman masyarakat men­ge­nai peng­galan­gan dana pen­didikan berdasarkan reg­u­lasi yang berlaku.

Doku­men ini bukan pen­da­p­at hukum mengikat dan tidak meng­gan­tikan kon­sul­tasi res­mi den­gan instan­si pemer­in­tah atau penasi­hat hukum. (ID)

Strive For Excellence — Karena Keunggulan Dibangun Bersama