Try Out SNBT: Ketika Sekolah Harus Pintar Cari Jalan, Bukan Cari Alasan
Setiap tahun ceritanya hampir sama.
Kelas XII mulai sibuk. Anak-anak mulai tegang. Orang tua mulai bertanya-tanya.
“Try out ada berapa kali?”
“Anak saya sudah cukup siap belum?”
Dan di sisi lain, sekolah dan Komite sama-sama berpikir:
Kita ingin bantu semaksimal mungkin, tapi harus tetap hati-hati.
Kenapa Try Out Itu Penting, Tapi Selalu Sensitif?
Try out bukan sekadar latihan soal.
Bagi anak-anak, try out itu latihan mental:
- belajar mengatur waktu,
- belajar menghadapi tekanan,
- belajar menerima hasil dengan realistis.
Masalahnya, kebutuhan try out sekarang jauh lebih besar dibanding dulu, sementara biaya operasional sekolah yang disediakan pemerintah memang punya batas.
Ini bukan soal kurang niat.
Bukan juga soal sekolah tidak peduli.
Ini soal realitas.
Yang Sering Salah Kaprah
Banyak yang mengira:
“Kalau sekolah punya tradisi prestasi, harusnya semua beres.”
Padahal justru sebaliknya.
Sekolah dengan tradisi prestasi biasanya punya standar latihan yang lebih tinggi.
Perlu dibedakan:
- Negara memastikan sekolah berjalan.
- SNBT adalah kompetisi nasional yang ketat.
Sekolah memastikan anak belajar.
Try out membantu anak bersaing.
Kalau dua hal ini dicampur, diskusi jadi tidak ke mana-mana.
Kenapa Banyak Program Bagus Malah Jadi Ribut
Lucunya, banyak program try out sebenarnya bagus.
Tujuannya jelas. Niatnya baik.
Tapi tetap memicu bisik-bisik.
Biasanya karena:
- ada biaya yang “rasanya kok kayak wajib”,
- pengumuman mendadak,
- komunikasi kurang utuh,
- Komite terkesan cuma urusan dana.
Akhirnya:
- orang tua jadi tidak nyaman,
- anak ikut terbawa beban,
- kepercayaan pelan-pelan turun.
Padahal semua pihak ingin hal yang sama: anak siap.
Mungkin Masalahnya Bukan di Uangnya
Coba ubah sudut pandang sedikit.
Try out itu bukan soal bayar atau tidak bayar.
Try out itu soal melindungi peluang anak.
Tanpa latihan yang cukup:
- anak bisa kaget dengan tipe soal,
- salah strategi,
- minder duluan.
Jadi pertanyaannya bukan:
“Siapa yang bayar?”
Tapi:
“Bagaimana caranya supaya anak-anak tidak berangkat ke SNBT tanpa persiapan?”
Tiga Prinsip Biar Tidak Salah Jalan
Pengalaman menunjukkan, program try out lebih mudah diterima kalau dijalankan dengan prinsip sederhana:
Adil
Semua anak dapat akses dasar. Tidak ada label mampu atau tidak mampu.
Pelan tapi pasti
Tidak dadakan. Tidak panik. Tidak maksa.
Bermartabat
Tidak bikin orang tua sungkan. Tidak bikin anak merasa terbebani.
Kalau tiga ini dijaga, biasanya suasana jadi jauh lebih adem.
Saat Keterbatasan Justru Memaksa Kita Kreatif
Menariknya, banyak sekolah akhirnya menemukan solusi justru karena keterbatasan.
Ada yang:
- membuka try out lebih luas supaya ada subsidi silang,
- melibatkan alumni untuk mendukung tahap tertentu,
- bekerja sama dengan mitra tapi fokus ke hasil, bukan seremoni,
- merapikan jadwal dan sistem supaya tidak boros.
Bukan buat cari untung.
Tapi supaya program tetap jalan tanpa menekan siapa pun.
Semua Punya Peran, Tidak Ada yang Harus Tertekan
Kalau mau jujur:
- sekolah fokus ke akademik,
- Komite jaga sistem dan keadilan,
- orang tua mendukung sesuai kemampuan,
- alumni dan mitra jadi penguat.
Tidak ada paksaan.
Tidak ada drama.
Tidak ada yang dikorbankan.
Penutup: Kadang Jalan Tengah Itu yang Paling Masuk Akal
Try out SNBT yang sehat bukan soal besar kecilnya dana.
Tapi soal bagaimana keterbatasan dikelola dengan jujur dan saling percaya.
Sekolah tidak sedang mencari jalan pintas.
Komite tidak sedang mencari alasan.
Orang tua pun sebenarnya ingin hal yang sama.
Supaya anak-anak kita berangkat ke SNBT
dengan persiapan, bukan dengan kecemasan. (ID)