• 022 4206921
  • admin@ks-sman5bdg.web.id
  • Jl. Belitung No.8, Bandung

Trauma Pungli 2016: Apa yang Berubah dan Apa yang Sekarang Diatur Negara

Trauma Kolektif 2016: Mengapa Publik Menjadi Sensitif

Tahun 2016 men­ja­di titik balik pent­ing dalam dunia pen­didikan.

Berba­gai kasus pung­utan liar (pungli) yang terungkap di sejum­lah seko­lah mem­bu­at pub­lik-teruta­ma orang tua-men­gala­mi trau­ma kolek­tif.

Sejak saat itu, kata-kata seper­ti “sum­ban­gan”, “par­tisi­pasi”, atau “ban­tu­an pen­didikan” ser­ing lang­sung memicu kecuri­gaan.

Banyak orang tua merasa khawatir:

  • takut diang­gap wajib menyum­bang,
  • takut anaknya diper­lakukan berbe­da,
  • takut salah langkah secara hukum.

Trau­ma ini manu­si­awi dan dap­at dipa­ha­mi.
Masalah­nya, trau­ma yang tidak dipa­ha­mi secara utuh ser­ing berkem­bang men­ja­di gen­er­al­isasi:

seo­lah-olah semua ben­tuk dukun­gan pen­didikan pasti bermasalah.

Pada­hal, tidak semua prak­tik di masa lalu itu sama.
Dan yang pal­ing pent­ing: negara tidak mem­biarkan keke­liru­an terse­but beru­lang tan­pa per­baikan.

Respons Negara: Apa yang Diubah dan Diperbaiki

Pas­ca tahun ajaran baru 2016, negara melakukan korek­si serius.
Salah satu langkah kuncinya adalah mem­per­je­las perbe­daan antara pung­utan yang dila­rang dan par­tisi­pasi masyarakat yang diper­bolehkan.

Negara menyadari dua fak­ta pent­ing:

  1. Pen­didikan berkual­i­tas mem­bu­tuhkan dukun­gan masyarakat.
  2. Dukun­gan itu tidak boleh berubah men­ja­di tekanan atau kewa­jiban.

Kare­na itu, negara mena­ta ulang per­an seko­lah dan komite seko­lah:

  • Seko­lah dila­rang melakukan pung­utan wajib.
  • Komite seko­lah bukan pemu­ngut uang, melainkan peng­ger­ak par­tisi­pasi sosial.
  • Semua ben­tuk dukun­gan harus:
    • sukarela,
    • tidak mengikat,
    • tidak mem­pen­garuhi hak akademik siswa.

Den­gan kata lain, negara bela­jar dari masa lalu.

Trau­ma 2016 jus­tru men­ja­di dasar lahirnya sis­tem yang lebih tert­ib, lebih etis, dan lebih melin­dun­gi semua pihak.

Apa yang Sekarang Diatur dengan Tegas oleh Negara

Agar tidak ada lagi ruang abu-abu, negara mene­tap­kan batas yang san­gat jelas.

Yang dilarang keras:

  • iuran wajib den­gan nom­i­nal ter­ten­tu,
  • pung­utan yang mengikat semua orang tua,
  • tekanan terselubung (mis­al­nya dikaitkan den­gan nilai, layanan, atau kegiatan bela­jar),
  • per­lakuan berbe­da kepa­da siswa kare­na orang tuanya tidak berpar­tisi­pasi.

Yang diperbolehkan:

  • par­tisi­pasi sukarela, den­gan nom­i­nal bebas atau bahkan tan­pa uang,
  • ban­tu­an dari alum­ni, masyarakat, dan dunia usa­ha,
  • kon­tribusi non-finan­sial (tena­ga, keahlian, fasil­i­tas, jejar­ing),
  • pen­gelo­laan dana yang transparan dan dap­at diper­tang­gung­jawabkan.

Con­toh prak­tis:

  • Orang tua tidak menyum­bang uang –> tidak melang­gar apa pun.
  • Anak tetap men­da­p­at hak pen­didikan penuh –> tidak boleh dibedakan.
  • Komite mem­bu­ka ruang dukun­gan –> bukan kewa­jiban, tapi pil­i­han.

Pesan hukum­nya seder­hana:

Tidak ikut berpar­tisi­pasi bukan pelang­garan,
dan tidak per­nah boleh berdampak pada anak.

Dari Trauma ke Kepercayaan: Mengubah Cara Pandang Kita

Trau­ma masa lalu tidak boleh dia­baikan, tetapi juga tidak boleh mem­bekukan masa depan pen­didikan.

Hari ini, reg­u­lasi jus­tru diran­cang untuk:

  • melin­dun­gi orang tua dari tekanan,
  • melin­dun­gi siswa dari diskrim­i­nasi,
  • melin­dun­gi seko­lah dan komite dari stig­ma.

Par­tisi­pasi pen­didikan bukan kewa­jiban finan­sial, melainkan pil­i­han bermarta­bat bagi sia­pa pun yang ingin ter­li­bat.

Den­gan atu­ran yang jelas:

  • orang tua bisa ten­ang,
  • seko­lah bisa fokus men­didik,
  • komite bisa bek­er­ja secara etis,
  • dan anak-anak men­da­p­at ruang ter­baik untuk berkem­bang.

Penu­tup­nya seder­hana:

Negara sudah bela­jar.
Atu­ran sudah diper­bai­ki.
Sekarang, saat­nya kita berg­er­ak den­gan kepala din­gin dan hati ter­bu­ka-
demi masa depan pen­didikan yang lebih baik. (ID)

Strive for Excellence — Karena Keunggulan Dibangun Bersama