• 022 4206921
  • admin@ks-sman5bdg.web.id
  • Jl. Belitung No.8, Bandung

Mengapa Sekolah Negeri dengan Tradisi Prestasi Tetap Membutuhkan Partisipasi Orang Tua?

(Terin­spi­rasi oleh Ibu Hj. Tati Patimah, yang menyam­paikan bah­wa Pemer­in­tah terus beru­paya menghi­langkan isti­lah “seko­lah ung­gu­lan — seko­lah favorit” demi pemer­ataan pen­didikan dasar dan menen­gah dalam kerang­ka wajib bela­jar)

Banyak orang tua datang ke seko­lah negeri den­gan keyak­i­nan yang san­gat wajar:
kare­na ini seko­lah negeri, maka selu­ruh kebu­tuhan seko­lah pasti sudah dib­i­ayai negara.

Keyak­i­nan ini tidak salah. Ia lahir dari kebi­jakan wajib bela­jar, Dana BOS, ser­ta narasi pen­didikan gratis yang sela­ma bertahun-tahun diban­gun oleh negara. Namun dalam prak­tiknya, keyak­i­nan terse­but ser­ing berte­mu den­gan real­i­tas yang tidak selalu dije­laskan secara utuh.

Tulisan ini tidak dimak­sud­kan untuk mem­be­narkan pung­utan, apala­gi mem­be­bani orang tua. Tujuan­nya seder­hana: melu­ruskan kon­teks, agar dia­log antara seko­lah, orang tua, dan Komite Seko­lah dap­at berlang­sung lebih ten­ang dan rasion­al.

Apa yang Sebenarnya Dijamin Negara?

Seba­gai amanat Kon­sti­tusi untuk mencer­daskan kehidu­pan Bangsa, maka Negara men­jamin akses pen­didikan min­i­mum bagi seti­ap anak usia seko­lah. Ini­lah mak­na uta­ma pen­didikan gratis dalam kerang­ka wajib bela­jar.

Dana BOS hadir untuk memas­tikan bah­wa:

  • seko­lah tetap ber­jalan,
  • kegiatan bela­jar men­ga­jar berlang­sung,
  • dan tidak ada anak yang tert­ing­gal hanya kare­na alasan ekono­mi.

Den­gan kata lain, BOS adalah fon­dasi, bukan atap selu­ruh kebu­tuhan pen­didikan.

Negara bahkan men­ga­lokasikan sek­i­tar 20% APBN untuk sek­tor pen­didikan, seba­gai wujud amanat kon­sti­tusi dan pelak­sanaan prin­sip kead­i­lan sosial bagi selu­ruh raky­at Indone­sia. Namun anggaran ini harus diba­gi secara adil untuk selu­ruh wilayah di Negara Repub­lik Indone­sia, selu­ruh jen­jang, dan selu­ruh kebu­tuhan sis­tem pen­didikan nasion­al.

Ketika Sekolah Memiliki Tradisi Prestasi

Di ten­gah kebi­jakan pemer­ataan terse­but, ter­da­p­at seko­lah-seko­lah negeri yang secara his­toris memi­li­ki tra­disi prestasi. Tra­disi ini ter­ben­tuk dari pros­es pan­jang: capa­ian akademik, prestasi non-akademik, budaya bela­jar, ser­ta keper­cayaan masyarakat yang ter­ban­gun dari wak­tu ke wak­tu.

Seko­lah seper­ti ini ser­ing dipo­sisikan seba­gai seko­lah negeri rujukan masyarakat. Bukan kare­na label res­mi, melainkan kare­na ekspek­tasi pub­lik yang tum­buh secara ala­mi.

Ekspek­tasi itu antara lain:

  • mutu pem­be­la­jaran yang lebih kuat,
  • pem­bi­naan prestasi yang berke­lan­ju­tan,
  • pengem­ban­gan karak­ter dan kepemimp­inan siswa,
  • ser­ta aktiv­i­tas pengem­ban­gan di luar stan­dar min­i­mum.

Masalah­nya, ekspek­tasi terse­but tidak selalu diirin­gi den­gan pem­bi­ayaan tam­ba­han dari negara.

Di Sini Muncul yang Disebut “Jurang Pembiayaan”

Jurang pem­bi­ayaan bukan isti­lah poli­tis, apala­gi pem­be­naran pung­utan. Ia adalah keny­ataan objek­tif keti­ka:

  • stan­dar pem­bi­ayaan negara bersi­fat min­i­mum dan mer­a­ta,
  • semen­tara kebu­tuhan pengem­ban­gan seko­lah den­gan tra­disi prestasi bera­da di atas stan­dar terse­but.

Con­tohnya:

  • pem­bi­naan olimpiade dan riset siswa,
  • pelati­han olahra­ga dan seni berprestasi,
  • pengem­ban­gan kepemimp­inan dan organ­isasi siswa,
  • kolab­o­rasi den­gan per­gu­ru­an ting­gi atau pihak ekster­nal.

Kegiatan-kegiatan ini pent­ing untuk men­ja­ga mutu, tetapi tidak selalu ter­cakup atau boleh dib­i­ayai oleh Dana BOS.

Peran Komite Sekolah dalam Konteks Ini

Negara menyadari bah­wa tidak semua kebu­tuhan seko­lah dap­at dipenuhi melalui anggaran negara. Kare­na itu, negara mem­bu­ka ruang par­tisi­pasi masyarakat melalui Komite Seko­lah, yang diatur secara tegas agar:

  • tidak ada pung­utan wajib,
  • tidak ada pak­saan,
  • dan tidak ada kon­sekuen­si bagi peser­ta didik.

Komite Seko­lah bukan alat penarik dana.

Komite adalah ruang dia­log, wadah komu­nikasi antara seko­lah dan orang tua, agar kebu­tuhan dap­at dije­laskan secara ter­bu­ka dan partisipasi—jika ada—terjadi secara sadar dan sukarela.

Orang Tua Bukan Objek, tetapi Subjek

Hal pal­ing pent­ing yang ser­ing terlu­pakan adalah:

orang tua memi­li­ki hak penuh untuk bertanya dan memil­ih.

Seti­ap orang tua berhak:

  • mem­inta pen­je­lasan,
  • mema­ha­mi tujuan suatu pro­gram,
  • meny­atakan setu­ju, menun­da, atau meno­lak.

Par­tisi­pasi hanya sah jika:

  • dilakukan secara sukarela,
  • tan­pa tekanan,
  • dan tan­pa rasa takut akan dampak pada anak.

Di sini­lah per­an Komite Seko­lah men­ja­di pent­ing: men­ja­ga agar ruang ini tetap aman dan bermarta­bat.

Kolaborasi Bukan Kewajiban, tetapi Pilihan Dewasa

Seko­lah den­gan tra­disi prestasi tidak bisa berdiri sendiri. Namun keung­gu­lan juga tidak boleh diban­gun den­gan pak­saan.

Kolab­o­rasi yang sehat:

  • dim­u­lai dari pema­haman,
  • dijalankan den­gan transparan­si,
  • dan dihen­tikan jika sudah tidak nya­man.

Tidak semua orang tua harus berpar­tisi­pasi.

Tidak semua kebu­tuhan harus dipenuhi.

Yang ter­pent­ing, keper­cayaan tetap ter­ja­ga.

Penutup

Tulisan ini bukan pem­be­naran pung­utan.

Bukan pula pem­be­laan sepi­hak seko­lah atau Komite Seko­lah.

Tulisan ini adalah ajakan untuk meli­hat per­soalan pem­bi­ayaan secara lebih utuh dan dewasa:

bah­wa negara men­jalankan per­an­nya, seko­lah bek­er­ja dalam keter­batasan, Komite Seko­lah men­ja­ga ruang dia­log, dan orang tua memi­li­ki hak penuh atas seti­ap pil­i­han.

Keti­ka pema­haman ter­ban­gun, kecuri­gaan akan berku­rang.

Dan dari keper­cayaan itu­lah mutu pen­didikan dap­at dija­ga bersama. (ID)

Strive for Excel­lence Kare­na Keung­gu­lan Diban­gun Bersama