• 022 4206921
  • admin@ks-sman5bdg.web.id
  • Jl. Belitung No.8, Bandung

Jurang RKAS 2026: Mengapa Harus Dijelaskan?

Ada satu angka yang tidak bisa dia­baikan.

Total kebu­tuhan RKAS 2026 sebe­sar Rp3.529.939.128.
Dana pemer­in­tah yang terse­dia sebe­sar Rp2.168.623.878.
Selisi­h­nya ± Rp1,36 mil­iar.

Itu bukan asum­si. Itu data yang dije­laskan dalam eBook “Jurang RKAS 2026: Fak­ta yang Harus Dije­laskan, Solusi yang Harus Dijalankan”

Per­tanyaan­nya bukan : men­ga­pa ada defisit?
Per­tanyaan­nya adalah : bagaimana defisit itu dije­laskan dan dikelo­la?

Masalah yang tidak dije­laskan akan melahirkan kecuri­gaan.
Masalah yang dije­laskan den­gan jujur jus­tru mem­ban­gun keper­cayaan.

Komite memil­ih jalan ked­ua.

Membaca Angka Tanpa Emosi, Tanpa Asumsi

RKAS bukan sekadar daf­tar kegiatan.
Ia adalah peta kebu­tuhan riil seko­lah sela­ma satu tahun.

Defisit muncul bukan kare­na pem­borosan sema­ta, tetapi kare­na sis­tem pem­bi­ayaan negara berba­sis stan­dar min­i­mum, semen­tara seko­lah rujukan men­ja­ga mutu di atas min­i­mum.

Di sini­lah pent­ingnya pem­be­da yang tegas:

K1 – Harus Ditut­up
Pro­gram yang berdampak lang­sung pada mutu dan kese­la­matan siswa.

K2 – Dikem­bangkan Melalui Kolab­o­rasi
Pro­gram pen­gayaan, prestasi, dan rep­utasi.

K3 – Tidak Boleh Dibebankan
Hak dasar siswa dan kewa­jiban negara seper­ti ijazah, ANBK, PPDB, dan admin­is­trasi pokok.

Tan­pa pem­be­da ini, defisit ter­li­hat seper­ti tem­bok besar.
Den­gan pem­be­da ini, ia men­ja­di beber­a­pa pin­tu kecil yang bisa dibu­ka satu per satu.

Solusi Dimulai dari Dalam

Kesala­han pal­ing umum keti­ka meli­hat angka defisit adalah lang­sung bertanya:
“Dari mana men­cari dana?”

Pada­hal langkah per­ta­ma adalah efisien­si inter­nal.

Blue­print dalam eBook men­je­laskan uru­tan yang tidak boleh diba­lik:

  1. Menu­runk­an beban melalui efisien­si.
  2. Men­gop­ti­malkan dukun­gan non-dana (barang, jasa, keahlian alum­ni).
  3. Mem­ban­gun kemi­traan berba­sis proyek yang jelas dan terukur.
  4. Baru­lah mem­bu­ka ruang par­tisi­pasi sukarela orang tua — den­gan batas tegas.

Orang tua bukan penopang uta­ma.
Dan par­tisi­pasi tidak boleh berubah men­ja­di pung­utan terselubung.

Prin­sip­nya seder­hana:
Tidak ada nom­i­nal wajib.
Tidak ada tar­get per orang tua.
Tidak ada kon­sekuen­si layanan.

Integri­tas lebih pent­ing dari­pa­da kecepatan.

Dari Defisit ke Sistem

Angka Rp1,36 mil­iar bukan iden­ti­tas seko­lah.
Sis­tem pen­gelo­laan­nya lah yang menen­tukan arah.

Tujuan akhirnya bukan sekadar menut­up keku­ran­gan.
Tujuan akhirnya adalah men­ja­ga mutu seko­lah sekali­gus men­ja­ga integri­tas­nya.

Jika sis­tem dijalankan kon­sis­ten:

K1 ter­tut­up.
K2 kolab­o­ratif.
K3 aman.
Tidak ada persep­si pung­utan.
Lapo­ran ber­jalan transparan.

Untuk mema­ha­mi kerang­ka ini secara utuh — ter­ma­suk taha­pan detail, risiko hukum, dan roadmap tiga tahun — silakan mem­ba­ca eBook lengkap­nya pada tau­tan di atas (judul eBook berwar­na hijau).

Kare­na keung­gu­lan tidak diban­gun den­gan tekanan.
Keung­gu­lan diban­gun bersama. (ID)