Bukan Cuma Try Out: Kenapa Kelas XII Butuh Lebih dari Sekadar Latihan Soal
Setiap tahun, pertanyaannya hampir selalu sama.
“Try out ada berapa kali?”
“Anak saya sudah siap belum?”
Padahal, pertanyaan yang lebih penting sering terlewat:
Setelah try out, anak kita dipersiapkan dengan cara apa?
REALITA YANG ADA
Coba kita jujur sebentar.
Banyak anak kelas XII sebenarnya pintar.
Tapi ketika masuk ruang ujian, hasilnya tidak selalu sebanding.
Bukan karena mereka tidak belajar.
Melainkan karena:
- kurang pemantapan,
- kelelahan mental,
- atau kehilangan ritme belajar di tengah tekanan.
Try out membantu anak mengenal medan.
Tapi medan yang dikenali tanpa pendampingan sering kali justru membuat anak bingung:
“Salahnya di mana?”
“Harus perbaiki apa?”
Di sinilah cerita sebenarnya dimulai.
PERSIAPAN BERLAPIS
Persiapan kelas XII yang sehat itu berlapis, bukan satu kegiatan berdiri sendiri.
Try out;
Melatih strategi, waktu, dan ketahanan mental.
Pemantapan akademik;
Membantu anak memahami kesalahan, memperbaiki pendekatan, dan membangun kepercayaan diri.
Ko-kurikuler;
Menjaga keseimbangan.
Anak yang terus ditekan tanpa ruang bernapas justru lebih cepat drop.
Semua ini berjalan dalam satu ekosistem.
Bukan berdiri sendiri-sendiri.
Dan ya, kita juga perlu jujur bahwa biaya operasional sekolah yang disediakan pemerintah memang punya batas.
Itu sebabnya sekolah dibantu Komite perlu mengelola dengan cermat, bukan asal menambah kegiatan.
NILAI & GAGASAN
Pendekatan yang lebih sehat adalah:
- yang dasar dilindungi bersama,
- yang lanjutan dibuat bertahap,
- partisipasi dibuka tanpa paksaan,
- dan pengelolaan dilakukan transparan dan bermartabat.
Bahkan, jika dari pengelolaan program:
- try out berjalan efisien,
- pemantapan dan ko-kurikuler tertopang dengan baik,
- lalu masih ada sisa dana,
maka sisa itu dikembalikan ke kebutuhan nyata siswa, misalnya:
- dukungan pencetakan ijazah,
- kelengkapan administrasi akademik akhir,
- kebutuhan teknis kelulusan yang sering luput perhatian.
Tidak sensasional.
Tapi sangat terasa manfaatnya.
PENUTUP
Mungkin sekarang saatnya kita mengubah cara bertanya.
Bukan lagi:
“Berapa kali try out?”
Tetapi:
“Apakah sistem persiapan anak-anak kita sudah saling menguatkan?”
Jika sekolah, Komite, dan orang tua bisa duduk pada niat yang sama—menjaga peluang anak tanpa tekanan dan tanpa paksaan—maka keterbatasan tidak lagi menjadi penghalang.
Ia justru menjadi alasan untuk lebih rapi, lebih adil, dan lebih manusiawi. (ID)