• 022 4206921
  • admin@ks-sman5bdg.web.id
  • Jl. Belitung No.8, Bandung

Apakah RKAS Itu Dokumen Rahasia?

Transparansi, Hak Orang Tua, dan Batas Profesional yang Perlu Dipahami

Seti­ap kali muncul pem­ba­hasan ten­tang pem­bi­ayaan seko­lah, per­tanyaan ini ham­pir selalu muncul:

Apakah angka-angka dalam RKAS itu raha­sia?

Seba­gian berpen­da­p­at bah­wa RKAS adalah doku­men inter­nal seko­lah.
Seba­gian lagi merasa bah­wa seba­gai orang tua, mere­ka berhak menge­tahui selu­ruh detail­nya.

Mana yang benar?

Jawa­ban­nya tidak hitam-putih. Tetapi prin­sip­nya jelas:
RKAS bukan doku­men raha­sia. Namun penya­jian­nya harus pro­por­sion­al dan pro­fe­sion­al.

1. RKAS dan Prinsip Dana Publik

Seko­lah negeri dib­i­ayai oleh negara.
Dana BOS dan BOPD berasal dari APBN dan APBD. Artinya, seba­gian besar pem­bi­ayaan seko­lah bersum­ber dari dana pub­lik.

Seti­ap pen­gelo­laan dana pub­lik tun­duk pada prin­sip:

  • Transparan­si
  • Akunt­abil­i­tas
  • Per­tang­gung­jawa­ban

Selain itu, Per­me­ndik­bud Nomor 75 Tahun 2016 ten­tang Komite Seko­lah mene­gaskan bah­wa Komite memi­li­ki fungsi mem­beri per­tim­ban­gan ter­hadap RKAS dan men­gawasi pelayanan pen­didikan. Fungsi ini tidak mungkin dijalankan jika RKAS sepenuh­nya ter­tut­up.

Den­gan demikian, secara prin­sip tata kelo­la, RKAS bukan doku­men yang boleh dis­em­bun­yikan.

2. Hak Orang Tua untuk Mengetahui

Orang tua bukan pihak luar.
Mere­ka adalah pemangku kepentin­gan uta­ma pen­didikan anaknya.

Selain itu, unsur orang tua juga secara for­mal men­ja­di bagian dari Komite Seko­lah. Artinya, secara struk­tur, orang tua sudah memi­li­ki rep­re­sen­tasi dalam pem­ba­hasan RKAS.

Kare­na itu, orang tua berhak menge­tahui:

  • Total kebu­tuhan anggaran seko­lah;
  • Total dana pemer­in­tah yang diter­i­ma;
  • Struk­tur bidang pem­bi­ayaan (akademik, kesiswaan, sarpras, dll);
  • Prin­sip klasi­fikasi pri­or­i­tas (mis­al­nya K1–K2–K3);
  • Mekanisme peng­gu­naan dan pela­po­ran dana.

Transparan­si seper­ti ini bukan ben­tuk pem­bukaan kelema­han.
Jus­tru ini­lah ben­tuk peng­hor­matan ter­hadap orang tua.

3. Apakah Semua Detail Harus Dibuka?

Di sini­lah ser­ing ter­ja­di salah persep­si.

Transparan­si tidak selalu berar­ti mem­bu­ka selu­ruh detail tek­nis tan­pa batas.

Ada perbe­daan antara:

Infor­masi kebi­jakan dan struk­tur anggaran, yang memang layak dike­tahui orang tua;

den­gan

Detail tek­nis admin­is­tratif, yang tidak per­lu dipub­likasikan secara luas.

Con­toh detail tek­nis yang biasanya tidak dipub­likasikan secara ter­bu­ka:

  • Rin­cian har­ga sat­u­an ven­dor;
  • Detail kon­trak pen­gadaan;
  • Nomor reken­ing pihak keti­ga;
  • Data hon­or indi­vidu ter­ten­tu;
  • Infor­masi yang bersi­fat sen­si­tif atau berpoten­si dis­alah­gu­nakan.

Bukan kare­na ingin dis­em­bun­yikan, tetapi kare­na menyangkut pro­fe­sion­al­i­tas, kea­manan, dan eti­ka admin­is­trasi.

Jadi, bukan raha­sia.
Tetapi ada batas pro­fe­sion­al.

4. Mengapa Transparansi Justru Melindungi Sekolah?

Pen­gala­man menun­jukkan, keti­ka angka RKAS tidak dije­laskan:

  • Orang tua hanya meli­hat “per­mintaan dukun­gan”;
  • Muncul persep­si pung­utan;
  • Speku­lasi berkem­bang di luar forum res­mi;
  • Keper­cayaan menu­run.

Seba­liknya, keti­ka angka dije­laskan secara sis­tem­a­tis:

  • Orang tua mema­ha­mi pro­por­si dana pemer­in­tah;
  • Orang tua meli­hat upaya efisien­si;
  • Orang tua menger­ti bah­wa tidak semua kebu­tuhan bisa ditut­up negara;
  • Diskusi men­ja­di rasion­al, bukan emo­sion­al.

Transparan­si bukan anca­man.
Transparan­si adalah per­lin­dun­gan.

5. Negara Tidak Menutup Seluruh Biaya — Ini Realitas Sistem

Dana pemer­in­tah diran­cang berba­sis stan­dar layanan min­i­mum.

Semen­tara itu, seko­lah yang ingin men­ja­ga mutu, pem­bi­naan prestasi, pen­guatan karak­ter, dan keber­lan­ju­tan sarana, ser­ing kali mem­bu­tuhkan biaya di atas stan­dar min­i­mum terse­but.

Ini bukan kesala­han sia­pa pun.
Ini adalah desain sis­tem pem­bi­ayaan pen­didikan.

Per­me­ndik­bud 75/2016 secara sub­stan­sial mem­bu­ka ruang par­tisi­pasi masyarakat secara kre­atif dan ino­vatif, den­gan syarat tidak melakukan pung­utan.

Artinya, reg­u­lasi sendiri sudah men­gakui bah­wa par­tisi­pasi masyarakat adalah bagian dari eko­sis­tem pen­didikan — namun harus dalam batas yang sah.

6. Transparansi Bukan Untuk Membebani

Keter­bukaan angka RKAS tidak berar­ti men­gal­ihkan tang­gung jawab negara kepa­da orang tua.

Keter­bukaan jus­tru memas­tikan:

  • Hak dasar siswa tetap ter­lin­dun­gi;
  • Pos yang tidak boleh dibebankan tetap aman;
  • Par­tisi­pasi masyarakat bersi­fat sukarela;
  • Tidak ada pung­utan terselubung;
  • Komite bek­er­ja dalam kori­dor hukum.

Tan­pa transparan­si, batas-batas ini mudah kabur.

7. Kesimpulan: Bukan Rahasia, Tetapi Dikelola dengan Etika

RKAS bukan doku­men raha­sia.
Namun bukan pula doku­men yang diper­lakukan tan­pa tata kelo­la.

Prin­sip yang sehat adalah:

  • Struk­tur dan kebi­jakan anggaran dije­laskan;
  • Angka glob­al dipa­parkan;
  • Kat­e­gori pri­or­i­tas diper­je­las;
  • Real­isasi dila­porkan secara berkala;
  • Detail tek­nis sen­si­tif tetap dija­ga secara pro­fe­sion­al.

Den­gan cara ini, seko­lah tetap transparan.
Komite tetap akunt­abel.
Orang tua tetap merasa dihor­mati.

Dan yang pal­ing pent­ing:
keper­cayaan tetap ter­ja­ga. (ID)