• 022 4206921
  • admin@ks-sman5bdg.web.id
  • Jl. Belitung No.8, Bandung

Koordinator Kelas: Hal Sederhana yang Sering Kita Jalani, Tapi Jarang Kita Pahami

Hampir semua orang tua pernah mengalaminya.

Anak pulang seko­lah lebih sore kare­na ada pen­tas seni. Ada kun­jun­gan ke muse­um. Ada proyek kelas yang mem­bu­at anak-anak sehar­i­an di seko­lah.

Lalu muncul per­tanyaan seder­hana:
“Anak-anak makan­nya bagaimana?”
“Disi­ap­kan bareng atau mas­ing-mas­ing?”
“Sia­pa yang koor­di­nasi?”

Di titik ini­lah biasanya Koor­di­na­tor Kelas muncul.
Bukan lewat atu­ran. Bukan lewat surat res­mi. Tapi lewat kesep­a­katan orang tua di kelas.

Masalah­nya, belakan­gan isti­lah ini ser­ing dis­alah­pa­ha­mi.

Koordinator Kelas—atau sering disebut Korlas—sebenarnya bukan jabatan sekolah.
Bukan juga bagian dari Komite Sekolah.

Kor­las adalah ger­akan sosial orang tua di tingkat kelas.
Ia lahir kare­na kebu­tuhan nya­ta anak-anak, bukan kare­na kebi­jakan pen­didikan.

Seko­lah fokus men­jalankan kegiatan bela­jar dan pro­gram­nya.
Orang tua, secara ala­mi, sal­ing mem­ban­tu memas­tikan anak-anak tetap nya­man.

Saat ada kegiatan sam­pai sore, orang tua sep­a­kat:

  • kon­sum­si anak disi­ap­kan bersama,
  • wak­tun­ya dis­esuaikan,
  • kebu­tuhan­nya disamakan.

Tidak ada pak­saan.
Tidak ada struk­tur.
Hanya koor­di­nasi seder­hana agar anak-anak baik-baik saja.

Meluruskan Persepsi

Di sini­lah ser­ing muncul per­tanyaan sen­si­tif:
“Ini pung­utan atau bukan?”

Pent­ing untuk jernih sejak awal.

Pung­utan dalam prak­tik pen­didikan adalah kewa­jiban yang dite­tap­kan, den­gan jum­lah dan wak­tu ter­ten­tu.
Prak­tik seper­ti itu memang tidak diper­bolehkan.

Koor­di­na­tor Kelas berbe­da.
Ia bukan kewa­jiban, bukan kepu­tu­san seko­lah, dan bukan bagian dari anggaran pen­didikan.

Yang ter­ja­di di Kor­las adalah:

  • kesep­a­katan sosial antar orang tua,
  • bersi­fat sukarela,
  • digu­nakan lang­sung untuk kebu­tuhan anak di kelas itu,
  • dikelo­la oleh orang tua sendiri.

Kare­na itu, Kor­las bera­da di ruang sosial orang tua, bukan di ruang kebi­jakan pen­didikan.

Perspektif yang Lebih Utuh

Kalau dil­i­hat lebih luas, Koor­di­na­tor Kelas sebe­narnya adalah gem­pi­lan kecil (frag­men­tasi) dari komu­ni­tas besar orang tua seko­lah.

Di tingkat kelas, hubun­gan orang tua lebih dekat, komu­nikasinya intens, dan kebu­tuhan­nya konkret.
Kor­las mem­ban­tu men­ja­ga:

  • komu­nikasi tetap cair,
  • koor­di­nasi tidak sim­pang siur,
  • suasana kelas tetap kon­dusif.

Dalam tata kelo­la pen­didikan nasion­al, per­an kebi­jakan tetap ada di seko­lah dan Komite Seko­lah.
Kor­las tidak mengam­bil alih per­an itu.

Jus­tru jika dipa­ha­mi den­gan tepat, Kor­las bisa dil­i­hat seba­gai aset sosial:

  • men­ja­ga iklim bela­jar yang nya­man,
  • mem­ban­tu seko­lah lewat lingkun­gan kelas yang tert­ib,
  • menyalurkan aspi­rasi kecil yang nya­ta dari orang tua.

Bukan untuk meng­gan­tikan Komite, tapi melengkapi eko­sis­tem.

Penutup

Koor­di­na­tor Kelas bukan sesu­atu yang harus ditaku­ti.
Ia adalah bagian dari dinami­ka sosial yang sela­ma ini sudah kita jalani.

Sela­ma dija­ga prin­sip­nya:

  • sukarela,
  • tidak memak­sa,
  • tidak mem­bawa nama insti­tusi,
  • dan tahu batas per­an­nya,

Kor­las jus­tru mem­ban­tu pen­didikan ber­jalan lebih manu­si­awi.

Kare­na pada akhirnya,
pen­didikan yang baik tidak hanya diban­gun oleh seko­lah, tetapi juga oleh keper­cayaan dan keber­samaan orang tua yang sal­ing mema­ha­mi per­an mas­ing-mas­ing.

Jika Anda orang tua, pen­gu­rus Komite, atau pen­didik,
mari kita jaga par­tisi­pasi ini tetap sehat, pro­por­sion­al, dan sal­ing meng­hor­mati. (ID)

Strive For Excellence — Karena Keunggulan Dibangun Bersama