Gotong Royong Pendidikan: Nilai Lama, Cara Baru
Gotong Royong: Nilai Lama yang Mengakar di Pendidikan
Gotong royong bukan istilah asing bagi kita.
Sejak lama, pendidikan di Indonesia tumbuh bukan hanya dari ruang kelas, tetapi juga dari kepedulian bersama.
Dulu, gotong royong hadir secara alami:
- orang tua ikut membantu kegiatan sekolah,
- alumni mendukung adik-adik kelasnya,
- masyarakat ikut menjaga lingkungan belajar.
Semua dilakukan karena satu keyakinan sederhana:
pendidikan adalah tanggung jawab bersama.
Nilai ini membentuk karakter sekolah dan siswa.
Bukan sekadar soal uang, tetapi soal rasa memiliki, kebanggaan, dan kepedulian terhadap masa depan generasi muda.
Namun, seiring waktu, nilai luhur ini menghadapi tantangan.
Ketika Cara Lama Menimbulkan Masalah
Masalah bukan muncul dari gotong royong itu sendiri,
melainkan dari cara menjalankannya.
Dalam praktik lama yang tidak terstruktur:
- batas antara sukarela dan wajib menjadi kabur,
- muncul rasa sungkan dan tekanan sosial,
- sebagian orang tua merasa “tidak enak” jika tidak ikut.
Situasi ini diperparah oleh kasus pungutan liar yang mencuat beberapa tahun lalu.
Akibatnya, gotong royong yang seharusnya menenangkan justru berubah menjadi sumber kecemasan.
Sejak itu, banyak orang tua menjadi sangat sensitif terhadap:
- istilah sumbangan,
- ajakan partisipasi,
- atau program dukungan sekolah.
Padahal, yang bermasalah bukan nilai gotong royongnya,
melainkan cara lama yang tidak memiliki batas yang jelas.
Karena itulah, gotong royong tidak perlu dihapus-
tetapi perlu diperbarui.
Cara Baru Gotong Royong Pendidikan yang Diatur Negara
Negara menangkap persoalan ini dan melakukan penataan.
Gotong royong pendidikan tetap diakui, tetapi harus dijalankan dengan cara baru.
Cara baru ini menekankan prinsip-prinsip berikut:
- sukarela, bukan kewajiban,
- tidak mengikat, bebas memilih,
- tidak terkait akademik, tidak mempengaruhi hak siswa,
- transparan dan akuntabel, dapat dipertanggungjawabkan.
Peran komite sekolah juga ditegaskan:
- bukan pemungut dana,
- melainkan fasilitator dan penghubung partisipasi masyarakat.
Gotong royong kini dapat hadir dalam berbagai bentuk:
- dukungan sukarela dari orang tua,
- bantuan alumni,
- kolaborasi dunia usaha,
- kontribusi non-finansial seperti tenaga, keahlian, atau jejaring.
Dengan cara baru ini, gotong royong menjadi lebih rapi, lebih aman, dan lebih bermartabat.
Dari Kewajiban Sosial ke Pilihan Bermartabat
Gotong royong pendidikan hari ini bukan lagi kewajiban sosial yang membebani.
Ia telah berubah menjadi ruang kontribusi yang bebas dan bermakna.
Setiap orang tua berhak memilih:
- ikut berpartisipasi atau tidak,
- memberi dalam bentuk apa pun,
- tanpa rasa takut atau tekanan.
Ketika partisipasi dilandasi keikhlasan:
- kepercayaan publik tumbuh,
- konflik dan kecurigaan berkurang,
- dukungan pendidikan menjadi berkelanjutan.
Nilainya tetap sama seperti dulu- kepedulian, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial.
Yang berubah hanyalah caranya:
lebih dewasa,
lebih tertib,
dan lebih menghormati martabat semua pihak.
Gotong royong adalah nilai lama.
Cara barunya memastikan nilai itu tetap hidup dan relevan. (ID)