• 022 4206921
  • admin@ks-sman5bdg.web.id
  • Jl. Belitung No.8, Bandung

Gotong Royong Pendidikan: Nilai Lama, Cara Baru

Gotong Royong: Nilai Lama yang Mengakar di Pendidikan

Gotong roy­ong bukan isti­lah asing bagi kita.

Sejak lama, pen­didikan di Indone­sia tum­buh bukan hanya dari ruang kelas, tetapi juga dari kepedu­lian bersama.

Dulu, gotong roy­ong hadir secara ala­mi:

  • orang tua ikut mem­ban­tu kegiatan seko­lah,
  • alum­ni men­dukung adik-adik kelas­nya,
  • masyarakat ikut men­ja­ga lingkun­gan bela­jar.

Semua dilakukan kare­na satu keyak­i­nan seder­hana:
pen­didikan adalah tang­gung jawab bersama.

Nilai ini mem­ben­tuk karak­ter seko­lah dan siswa.
Bukan sekadar soal uang, tetapi soal rasa memi­li­ki, kebang­gaan, dan kepedu­lian ter­hadap masa depan gen­erasi muda.

Namun, seir­ing wak­tu, nilai luhur ini meng­hadapi tan­ta­n­gan.

Ketika Cara Lama Menimbulkan Masalah

Masalah bukan muncul dari gotong roy­ong itu sendiri,
melainkan dari cara men­jalankan­nya.

Dalam prak­tik lama yang tidak ter­struk­tur:

  • batas antara sukarela dan wajib men­ja­di kabur,
  • muncul rasa sungkan dan tekanan sosial,
  • seba­gian orang tua merasa “tidak enak” jika tidak ikut.

Situ­asi ini diper­parah oleh kasus pung­utan liar yang men­cu­at beber­a­pa tahun lalu.
Aki­bat­nya, gotong roy­ong yang seharus­nya mene­nangkan jus­tru berubah men­ja­di sum­ber kece­masan.

Sejak itu, banyak orang tua men­ja­di san­gat sen­si­tif ter­hadap:

  • isti­lah sum­ban­gan,
  • ajakan par­tisi­pasi,
  • atau pro­gram dukun­gan seko­lah.

Pada­hal, yang bermasalah bukan nilai gotong roy­ongnya,
melainkan cara lama yang tidak memi­li­ki batas yang jelas.

Kare­na itu­lah, gotong roy­ong tidak per­lu diha­pus-
tetapi per­lu diper­barui.

Cara Baru Gotong Royong Pendidikan yang Diatur Negara

Negara menangkap per­soalan ini dan melakukan penataan.
Gotong roy­ong pen­didikan tetap diakui, tetapi harus dijalankan den­gan cara baru.

Cara baru ini menekankan prin­sip-prin­sip berikut:

  • sukarela, bukan kewa­jiban,
  • tidak mengikat, bebas memil­ih,
  • tidak terkait akademik, tidak mem­pen­garuhi hak siswa,
  • transparan dan akunt­abel, dap­at diper­tang­gung­jawabkan.

Per­an komite seko­lah juga dite­gaskan:

  • bukan pemu­ngut dana,
  • melainkan fasil­i­ta­tor dan penghubung par­tisi­pasi masyarakat.

Gotong roy­ong kini dap­at hadir dalam berba­gai ben­tuk:

  • dukun­gan sukarela dari orang tua,
  • ban­tu­an alum­ni,
  • kolab­o­rasi dunia usa­ha,
  • kon­tribusi non-finan­sial seper­ti tena­ga, keahlian, atau jejar­ing.

Den­gan cara baru ini, gotong roy­ong men­ja­di lebih rapi, lebih aman, dan lebih bermarta­bat.

Dari Kewajiban Sosial ke Pilihan Bermartabat

Gotong roy­ong pen­didikan hari ini bukan lagi kewa­jiban sosial yang mem­be­bani.

Ia telah berubah men­ja­di ruang kon­tribusi yang bebas dan bermak­na.

Seti­ap orang tua berhak memil­ih:

  • ikut berpar­tisi­pasi atau tidak,
  • mem­beri dalam ben­tuk apa pun,
  • tan­pa rasa takut atau tekanan.

Keti­ka par­tisi­pasi dilan­dasi keikhlasan:

  • keper­cayaan pub­lik tum­buh,
  • kon­flik dan kecuri­gaan berku­rang,
  • dukun­gan pen­didikan men­ja­di berke­lan­ju­tan.

Nilainya tetap sama seper­ti dulu- kepedu­lian, keber­samaan, dan tang­gung jawab sosial.

Yang berubah hanyalah caranya:

lebih dewasa,
lebih tert­ib,
dan lebih meng­hor­mati marta­bat semua pihak.

Gotong roy­ong adalah nilai lama.
Cara barun­ya memas­tikan nilai itu tetap hidup dan rel­e­van.
(ID)

Strive for Excellence — Karena Keunggulan Dibangun Bersama